Rahasia Kekuatan Doa yang Mustajab – Bioenergi

Doa yang Mustajab – Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyata netepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi paling penting adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa yang Mustajab akan cepat terijabah apabila kita melukannya pada waktu dan tempat yang mustajab, saat dalam keadaan mendekatkan diri kepada Allah, dan doa kita berada pada arus hukum atau kodrat Tuhan

Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya. Tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul?Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan, pikiran memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Bila tindakan kita tidak sinkron, justru makan makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan, ini menjadi doa yang tidak konsisten. Doa yang mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas.

Baca juga: Pasrah Kepada Tuhan, Cara Bioenergi Bekerja

Antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiksi. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak”  Tuhan. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Salah satu Doa yang Mustajab adalah saat kita dalam kondisi teraniaya, namun semua itu juga tergantung kebersihan hati dan pikiran serta frekuensi energi kita.

Doa yang Mustajab didasari prilaku dalam rumus (kodrat) Tuhan

Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan.

Baca juga: 8 Manfaat Bioenergi Agar Lebih Tenang Dan Dekat Dengan Tuhan

Berdoa jangan menuruti keinginan diri sendiri, berdoa  itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.

Berdoa secara spesifik dan detil  penting tetapi harus dilakuakn dengan hati-hati karena dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan. Doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik.

Baca juga: Cara Mengatasi Masalah Dan Sukses Dengan Bioenergi

Amal Kebaikan kita pada Sesama Menjadi Doa yang Mustajab meski Tak Terucap

Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa.  Doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak  tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu. Hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan.

Saat kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang mustajab meski tak terucap. Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.

Baca juga: Menghidupkan Cahaya Hati Dengan Bioenergi

Rumus Doa Dalam tradisi spiritual Jawa

1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan  selalu mendapatkan kemudahan.

2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.

3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.

4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.

5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.

6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah.

7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu.

Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa yang mustajab untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa,  dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.

Baca juga: Doa Dan Cara Disukai Banyak Orang

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;

  1. Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
  2. Berharap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
  3. Jangan berharap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
  4. Mengharapkan mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
  5. Ingin meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Lima “rumus” di atas hanya sebagian contoh. Silahkan para pembaca yang budiman mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.

Doa yang Mustajab adalah Cermin Kesadaran

Dahulu saya pernah mengalami kebanyakan asa, lalu giat sekali berdoa bermacam-macam hal. Siang-malam berdoa isinya permohonan apa saja yang diinginkan. Waktu berdoa pun hanya pada  waktu tertentu yang dianggap mustajab. Tetapi  saya masih merasakan kehampaan dalam hidup. Bahkan saya merasakan realitas yang terjadi justru semakin menjauh dari harapan seperti yang terucap dalam setiap doa. Lama-kelamaan muncul kesadaran ada yang tidak beres dalam prinsip pemahaman saya ini.

Kesadaran diri muncul lagi manakala merasa sangat kurang dalam melakukan amal kebaikan terhadap sesama. Kami berfikir, betapa buruknya tabiat ini, yang selalu banyak meminta-minta, tetapi sedikit “memberi”. Coba mengingat apa saja kebaikan yang pernah kita lakukan pada sesama. Namun yang teringat justru keburukan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada teman, keluarga, orang tua, dan pada orang lain. Kami menjadi resah sendiri, merasa dalam kehidupan ini kami tidak bermanfaat samasekali untuk orang banyak. Sementara kami nggak tahu malu dengan selalu meminta-minta terus. Berharap-harap memperoleh pemenuhan hak-hak sebagai manusia ciptaan Tuhan, tetapi enggan memenuhi kewajiban untuk beramal baik pada sesama.

Hingga pada suatu saat kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, bahwa doa adalah perbuatan konkrit. Dasar pemikiran kami adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang telah menerima anugrah begitu banyak dalam setiap detiknya. Namun kenyataannya manusia tiada rasa “malu” setiap saat selalu meminta pada Tuhan. Lantas kapan bersukurnya? Banyak mengucapkan syukur di bibir saja tidak cukup. Rasa bersyukur serta doa-doa melebur dan mewujud ke dalam satu perbuatan. Rasa sukur termanifestasikan kedalam perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. Demikian pula cara berdoa tidak sekedar terucap melalui mulut, namun lebih penting adalah mewujud dalam perbuatan nyata. Sehingga Doa kita akan menjadi Doa yang mustajab dan kuat serta meningkatkan kualitas disi secara mental dan spiritual.

Baca juga: Kecerdasan Bioenergi Mencerminkan Ekspresi Kesadaran